JADIKAN DIRI ANDA SEBAGAI “JAWABAN” DAN “PEMUASAN” KARENA ITULAH YANG BENAR-BENAR MEREKA INGINKAN



Menjadikan diri anda sebagai otoritas merupakan sebuah prinsip dasar yang harus anda miliki dalam menjadi seorang Penghipnotis. Prinsip sederhana namun penuh daya yang akan menjadikan setiap anda segesti. Anda akan mencapai pengaruh dan kuasa luar biasa pada orang lain.

Sementara para penghipnotis (?) lain masih berkutat dengan kata-kata dan berbagai aturan, namun belum mencapai “hasil” yang diinginkan karena kehilangan “roh” sejati dari Hipnotis, anda menjadikan diri anda Sang Penghipnotis sejati, yang bisa menggerakan, merubah dan mempengaruhi orang lain dengan sangat mudah. Mungkin mereka akan heran dengan besarnya dampak dan cantiknya keberhasilan yang anda capai.

(Kepuasan adalah salah satu driving force terkuat dalam diri manusia)


Setiap orang membutuhkan otoritas dalam kehidupan mereka, dan setiap orang merupakan perwujudan dari sebuah “paradoks”, yang senantiasa bertentangan dengan diri mereka sendiri, yang senantiasa melakukan pembatalan (self-cancelling) atas berbagai prinsip dan nilai mereka sendiri.

Memahami Paradoks dan Dinamika “Gila” Dalam Diri Manusia


Paradoks pertama yang ada dalam diri manusia adalah mereka senantiasa menginginkan kebebasan dalam segala hal, menginginkan menjadi pribadi yang sepenuhnya merdeka dan memiliki kuasa dalam diri mereka. Menjadi pribadi yang “berkuasa” atas dirinya sendiri dan “bebas” dalam mengatur dan menentukan kehidupanya sendiri membuat mereka mendapatkan sense of power.  Namun, saat mereka telah “mendapatkan” kebebasan yang mereka inginkan, mereka kemudian “menyerahkan” kembali kebebasan itu pada otoritas-otoritas di luar diri mereka, menyerahkan otoritas atas kebebasan mereka pada hal-hal yang bukan mereka. Mereka merasa terlalu lemah untuk menjadi terlalu bebas, sehingga mereka takut untuk memiliki kebebasan tersebut, takut untuk mengaturnya, takut dengan tanggung jawabnya.

(Manusia diciptakan dengan dualitas dalam diri mereka)

Guru Spiritual, Tuhan, Para Dewa, Para Malaikat, Pemimpin, Coach, Therapist, Konselor, sahabat, “teman curhat” dan bahkan “sahabat virtual” pun menjadi otoritas yang mereka jadikan tempat mereka bergantung. Mereka kemudian sedikit-sedikit meminta saran, meminta pendapat dan meminta ini itu dari orang lain, yang akan membuat mereka merasa nyaman. Jauh lebih mudah saat ada yang “mengatur” dan memberi tahukan apa yang harus dilakukan, dibanding harus melakukanya sendiri. Namun, bukan ke sembarang orang mereka akan menyerahkan kebebasan yang sangat mereka cintai itu, mereka hanya menyerahkanya pada orang yang mereka anggap sebagai otoritasnya.

Jadi, paradoks pertama, manusia menginginkan kebebasan, namun kemudian merekan akan selalu menyerahkan kebebasan yang mereka miliki pada orang yang mereka anggap sebagai otoritas. Kemudian, otoritas inilah yang akan mereka jadikan referensi dalam menentukan apa yang harus dipikirkan, apa yang harus dikatakan, dan apa yang harus dilakukan.

Bayangkan, jika seseorang telah memberikan otoritasnya pada anda, maka akan seberapa besar kuasa yang anda miliki terhadap orang-orang tersebut?

Paradoks kedua, manusia senantiasa membutuhkan, mencari dan membentuk makna untuk diri dan kehidupanya, namun mereka akan selalu meragukan makna yang mereka temukan sendiri, sehingga mereka senantiasa mencari hal-hal lain (orang lain, buku, vidio, pembimbing dan sejenisnya) yang akan bisa memberikan makna untuk diri dan kehidupanya.

Kita tahu, bahwa makna (meanings) merupakan salah satu landasan kita dalam menjalani kehidupan. Kita melakukan sesuatu berdasarkan makna yang kita tempatkan pada apa yang kita lakukan itu, dan kita menanggapi sesuatu, seseorang atau keadaan bukan berdasarkan bagaimana sejatinya sesuatu, seseorang atau keadaan tersebut, namun berdasarkan bagaimana kita menanggapi sesuatu, seseorang atau keadaan bersangkutan. Kita, di sepanjang kehidupan kita merupakan “pembentuk makna” atau “pemberi makna” terhadap apa pun.

Namun, dari manakah datangnya pemaknaan yang kita ikuti dan yakini itu? Siapakah yang sebenarnya memberi makna atas berbagai pemaknaan tersebut? Karena kita senang merasa bebas, bebas dalam menentukan kehendak, maka banyak orang akan cenderung menjawab “tentu saja, saya!”.

Sayangnya, cara kita memaknai sesuatu akan ditentukan oleh pemaknaan dan keyakinan-keyakinan, nilai-nilai dan kriteria yang kita telah miliki sebelumnya, dan segala referensi kita dalam membentuk makna baru terhadap hal-hal baru ditentukan oleh data-data lama yang berasal dari otoritas anda (kebanyakanya). Anda memaknai sesuatu berdasarkan asosiasi yang anda tempatkan terhadap seseorang atau sesuatu itu dengan memori atau data yang anda miliki di pikiran anda, dikaitkan dengan suasana hati anda, nilai-nilai yang anda miliki sebelumnya dan hal-hal lainya. Tidak ada yang benar-benar baru.

Kebutuhan untuk senantiasa memaknai sesuatu, mengerti dan memahami segala yang terjadi dibalik berbagai hal sudah menjadi kecanduan kita yang paling vital, yang tanpanya kita tidak akan dapat hidup. Dalam sehari kita melakukan ribuan pemaknaan, pengartian dan rasionalisasi, dan berdasarkan semua itulah kita memiliki dinamika kehidupan kita.

Kita melakukan pemaknaan mulai dari hal-hal yang paling kecil (contoh: orang yang sering melirik saya mungkin meliha ada yang aneh dalam diri saya), sampai hal-hal yang paling besar yang mendalam dan fundamental dalam kehidupan (contoh: kenapa Tuhan menciptakan manusia, ya?). kemudian atas berbagai hal yang kita tidak bisa (atau tidak percaya diri untuk) maknai sendiri, maka kita akan mencari referensi ke otoritas kita, ke orang yang kita anggap memiliki kapabilitas dalam hal itu.

Namun, saya ingin anda mengingat hal ini, bukan sebatas apakah anda “mampu” dan “bisa” yang menjdikan anda sebagai otoritas, namun jug seberapa “menyamankan” dan seberapa “disukai” anda oleh orang tersebut (liking factor dari Robert Cialdini). Karena, meski pun anda dianggap mampu dan bisa, namun jika anda, karena satu atau beberapa alasan tidak disukai, maka anda tetap tidak akan menjadi otoritasnya.

Hitler menjadi contoh yang sangat brilian dalam hal ini. Dia memberikan pemaknaan dan arti atas segala hal yang terjadi di Jerman, dan mengarahkan makna (reframming) itu sesuai dengan kepentingan-kepentingan dan keinginanya. Dia mengarahkan pemikiran warga Jerman dengan sangat mudah, dia menjadi “Guru Kehidupan” bagi warga Jerman (dibahas lebih rinci dalam The Hitler Effect), tentu saja setelah dia menempatkan dirinya sebagai otoritas Jerman kala itu.

Kekalahan Jerman disebabkan karena “noda” yang dibawa Kaum Yahudi terhadap keagungan Bangsa Arya, Bangsa Arya adalah Bangsa termulia yang harus menguasai dunia, dan berbagai macam reframming lain dibuat oleh Hitler demi kepentinganya, yang akhirnya mengantarkan Nazi pada tampuk kejayaan, yang didukung oleh jutaan masyarakat Jerman.

Dia memberikan banyak kepuasan pada warga Jerman dengan berbagai pemaknaan yang “menyamankan”, bukan yang berdasarkan atas analisis dan sistesis yang logis, namun berdasarkan pada kepentingan-kepentingan.

Hal ini mengantarkan kita pada paradoks ketiga manusia ...

(Bersambung ke Edisi Berikutnya)
Tulisan ini merupakan salah satu materi dalam buku saya mengenai MIND CONTROL yang akan segera release
READMORE
 

RUMUSAN DAN ALASAN PERSUASI YANG MEMATIKAN (2)

Berikut merupakan kelanjutan dari artikel pertama "Rumusan dan Alasan Persuasi yang Mematian", silahkan rekan-rekan yang sudah membaca artikel pertama melanjutkan ke artikel ini.

Hukum Dasarnya, Masih Sama
Hukum dasar yang dikemukakan oleh Siir Isaac Newton berabad lalu masih berlaku, dan masih sama, yaitu hukum stimulus-respon, dan tentu masih berlaku dalam persuasi. Hukum mendasar ini terlalu mendasar untuk bisa kedaluwarsa, namun sayangnya terlalu mendasar juga untuk dianggap penting.
Jika anda tidak memiliki pengamatan yang tajam terhadap bagaimana reson yang anda terima dari stimulus yang anda berikan dalam berinteraksi, maka anda hanya akan membuang-buang waktu. Banyak pembicara yang terlalu sibuk dengan pembicaraanya sehingga lupa memperhatikan bagaimana pembicaraanya tersebut direspon oleh lawan bicaranya.

Respon yang anda terima merupakan determinan penting yang bisa anda pergunakan untuk “menentukan” apa yang berikutnya anda katakan, bagaimana anda mengatakanya, dan penyesuaian-penyesuaian apa yang harus anda buat agar anda mendapatkan respon yang lebih baik. Namun, jika anda terlalu buta terhadap  respon lawan bicara anda sejak awal dan merangkainya dengan baik, maka saat anda mendapat respon yang mengejutkan, lalu menyebutnya Black Swan Effect.



Hukum dasar kedua, yang sudah sangat lama keberadaanya, yaitu hukum reward and punishment pun masih berlaku dengan baik. Jika anda tahu kondisi, topik dan hal apa yang perlu anda berikan reward karena mendukung anda, dan mana yang akan anda berikan punishment karena tidak mendukung anda, akan menentukan juga keberhasilan anda. Sebaliknya, jika seeorang berbicara dengan topik yang akan menguatkan penolakanya pada anda, dan anda pun terbawa pembicaraan tersebut, maka anda hanya akan menguatkan penolakan yang akan anda terima.

Hukum-hukum dasar yang sudah sangat tua ini masih sangat efektif, asalkan anda mempergunakanya dengan ketepatan yang “menusuk”.

Over Confident is Not Confident Anymore
Rasa percaya diri adalah komponen penting dalam komunikasi dan interaksi. Jika anda tidak memiliki rasa percaya diri, maka lawan bicara anda akan mengetahuinya, mereka akan menangkap sinyal-sinyal rasa tidak percaya diri anda yang akan terwujud di wajah, mata, bahasa tubuh dan cara bicara anda, lalu lawan bicara anda akan otomatis mendapatkan sense of power dan anda pun kehilangan kendali atas komunikasi.
Namun jika anda terlalu percaya diri dengan diri anda, maka anda akan memunculkan proteksi dari lawan bicara anda, anda bukanya akan mendapatkan power dan kendali, namun penolakan. Tidak ada orang yang suka menjadi lebih lemah dan termanipulasi oleh orang lain, sehingga jika seseorang melihat orang yang terlalu percaya diri, maka mereka cenderung akan memunculkan rasa tidak aman dan tidak nyaman yang membuat pikiran tak sadarnya secara otomatis melakukan berbagai proteksi untuk melindungi mereka. Keduanya adalah basic insting, naluri dasar, dan jika anda berada di garis “terlalu” maka anda akan mengaktifkan salah satunya, mengaktifkan proteksi atau memberi seseorang sense of ower yang membuat mereka sulit anda pengaruhi.

Cara Mudah Agar Anda Mendapat Penolakan (vibrasi dan refleksi Bawah sdar jangan sampai beda dengan kata yang Diucapkan)

Pikiran bawah sadar adalah pikiran yang menyimpan memori jangka panjang, yang berarti anda memiliki semua memori semanjak kelahiran anda sampai saat ini. Selain itu pikiran bawah sadar juga memiliki kemampuan belajar yang sangat luar biasa, pikiran bawah sadar bisa menganalisa pola-pola yang ada dalam dunia, termasuk pola komunikasi, pola kebohongan dan kejujuran, dan inilah yang menyebabkan adanya semacam “intuisi” kalau-kalau ada yang “janggal” dalam pembicaraan orang lain. Ada intuisi yang menjaga anda yang dalam menganalisa orang lain, yang meski tidak bisa anda jelaskan dengan detail, namun “firasat” itu bisa sangat kuat.
Alasanya sederhana, saat anda berkomunikasi dengan seseorang, ikiran bawah sadar anda juga berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar orang tersebut. Bedanya, jika kata-kata dan berbagai reaksi “sadar” bisa dikendalikan, maka reaksi-reaksi bawah sadar anda dan pikiran bawah sadar lawan bicara anda berkomunikasi dengan sangat polos apa adanya. Sehingga, jika kata-kata anda tidak senergis dengan “kebenaran” maka lawan bicara anda akan menangkap sinyalnya dan meragukan anda
Pikiran bawah sadar merefleksikan niat-niat tersembunyi anda, tujuan-tujuan anda dan pemikiran anda yan sebenarnya dengan bahasa tubuh, cara bicara dan sebagainya.

Pikiran bawah sadar paling sensitif dengan refleksi emosi, atau bagaimana perasaan anda yang sebenarnya. Jadi, tugas pertama anda jika anda ingin menjadi orang yang benar-benar berpengaruh adalah, pandai-pandai mengelola emosi-emosi dan perasaan-perasaan dalam diri anda, sehingga pikiran bawah sadar anda akan secara otomatis memproyeksikanya tanpa mengatakan apa-apa.

Anda tidak harus jujur atau selalu berniat baik, namun jika anda ingin berbohong dan menyembunyikan niat khusus, maka pastikan anda memiliki emosi dan kondisi (state) yang sesuai, sehingga anda bisa berbohong dengan sinergis, dan tidak menimbulkan kesan-kesan aneh di pikiran bawah sadar lawan bicara anda.

Mengalir, Lalu Tenggelam
Pembicaraan yang mengalir memang selalu menggairahkan dan menyenangkan, namun jika aliranya tidak sesuai dengan tujuan komunikasi dan interaksi anda, maka anda hanya akan bergosip tidak penting tanpa meraih apa-apa. Atau, lebih parah lagi anda terbawa ke dalam percakapan yang jauh dari tujuan semula anda.

Aliran lain yang menghanyutkan dan menenggelamkan para pembicara sehingga tidak mencapai apa yang ingin dicapainya dalam percakapan yang dilakukanya adalah, berbicara apa adanya, tanpa skenario apa-apa. Anda tidak harus memikirkan semua hal lalu berpegang padanya sebagai panduan baku anda dalam berkomunikasi, namun menjadi fleksibel juga tidak berarti “tenggelam” dalam ketidak pastian anda.


Sangat penting sebelum anda memulai pembicaraan anda, anda merancang sedikit skenario bagaimana komunikasi tersebut akan berjalan, apa yang akan anda katakan, bagaimana mengatakanya, memprediksikan respon-respon lawan bicara anda dan mempersiapkan reaksi serta penanggulangan yang sesuai. Tentu saja, dalam praktiknya anda juga harus fleksibel dan terus membuat penyesuaian dengan berdasarkan stimulus-respon yang anda dapatkan dalam kenyataanya.

Pastikan anda menentukan kemana aliran sungainya, dan kemana alternatifnya, lalu secara fleksibel anda menggiring lawan bicara anda ke dalam aliran tersebut. Namun, boleh saja jika anda lebih suka tenggelam dalam pembicaraan lawan bicara anda, apa lagi jika itu memberikan apa yang anda angankan.

Skenario yang anda susun bukanlah daftar percakapan yang harus anda ucapkan, namun lebih pada strategi-strategi yang akan anda gunakan, hal-hal dalam diri lawan dan di lingkunganya yang bisa anda manfaatkan, serta rencana-rencana cadangan untuk antisipasi. Kemungkinan-kemungkinan penolakan dan penerimaan, serta antisipasinya. Dengan demikian, anda akan memegang kendali bagaimana dan ke arah mana percakapan anda akan menuju.

Senjata Makan Tuan
Terkadang, para pembicara yang baru saja selesai training sebuah pelatihan komunikasi atau baru saja mempelajari teknik-teknik persuasi mutakhir dari berbagai sumber akan secara percaya diri menerapkan teknik tersebut dalam berinteraksi. Gairah ini sangat penting untuk mengembangkan penguasaan (mastery) dalam bidang keilmuan apa pun.

Sayangnya, gairah ini jika tidak dibarengi dengan prinsip dasarnya, fleksibilitas dan eksperimentasi justru bisa menjadi senjata makan tuan. Banyak orang yang karena terlalu yakin dengan teknik yang baru dipelajarinya kemudian menjadikanya “aturan baku” dalam berinteraksi, sehingga cenderung menjadikan interaksi jatuh ke dalam kekakuan atau jatuh ke dalam kekecewaan.

Pentingnya mengetahui teknik-teknik persuasi dan berbagai teori komunikasi efektif bukan untuk menjadikan anda semakin kaku dalam teknik tersebut, namun menjadikan anda lebih fleksibel karena memiliki lebih banyak senjata saat senjata lainya tidak memungkinkan. Anda memiliki banyak pilihan serangan dan bisa merancang strategi dengan lebih baik, karena banyaknya referensi.

Mengembangkan attitude seorang komunikator ulung lebih penting dibanding teknik-teknik terapanya. Kalau pun anda mempergunakan teknik tertentu boleh saja, bahkan sangat baik, namun teknik tersebut harus dipergunakan dengan attitude yang sesuai, yang juga dijabarkan dalam bagian buku ini.

LALU APA????
Mungkin ada diantara anda yang bingung dengan banyaknya teori dan perspektif. Berbagai macam teori dan perspektif komunikasi tidak bertujuan membuat anda bingung atau overloaded informasi, namun untuk membuat anda memiliki lebih banyak referensi dalam melakukan komunikasi anda secara fleksibel.

Buku ini disusun dengan berbagai elemen komunikasi, mulai dari pola kalimat dan kata-kata yang dahsyat sampai pada pengembangan karakter yang sesuai dan pemanfaatan berbagai hal yang tadinya terlupakan. jadi, dalam buku ini anda akan mendapatkan berbagai informasi dan teknik yang anda butuhkan untuk menjadi seorang pakar persuasi, menjadi orang yang memiliki pengaruh besar.

Robert Cialdini mengatakan bahwa persuasi adalah science bukan seni, namun saya lebih suka menyebutnya seni. Anda bisa menjadi seniman ahli dan menghasilkan karya seni yang luar biasa jika anda memiliki teknik dan selera yang sesuai. Demikian pula dalam persuasi, anda memerlukan teknik yang memang ampuh dan serangkaian sikap mental yang harus anda campurkan menjadi satu dengan penuh “uji-coba”, rasa ingin tahu dan banyak sentuhan keindahan di dalamnya. Selayaknya dalam seni, teknik tidak mengikat namun membantu mewujudkan keinginan anda dengan lebih baik, dan jika anda terus bereksperimen dengan memakai “hasil” sebagai patokan, maka anda bahkan bisa menghasilkan teknik anda sendiri, yang bisa saja lebih dahsyat.

NB :
Tulisan ini merupakan salah satu cuplikan dari Buku "The Hitler Effect"

READMORE
 

RUMUSAN DAN ALASAN PERSUASI YANG MEMATIKAN


Pada bab ini kita akan membahas hal-hal mendasar dalam komunikasi dan persuasi. Saya mengamati beberapa tokoh persuasi yang sangat powerful, yang ada di sekitar saya, dan mengamati guru-guru serta berbagai sumber mengenai komunikasi dan persuasi. Saya memilah dan memilih lalu menguji prinsip-prinsip dasarnya, dan saya menuliskanya dalam poin-poin pentingnya dalam bab ini. Tentu, arah pembahasanya dibatasi dengan perbedaan mendasar yang membedakan antara teknik dan ahli persuasi yang berhasil dengan yang tidak, yang efektif dan yang tidak.



Sebelum anda melanjutkan membaca dan mempraktikan isi buku ini, silahkan anda cermati dengan baik prinsip dasar umum ini, yang mungkin akan menghasilkan insights yang luar biasa dalam pola komunikasi dan persuasi anda selama ini. Sekali lagi, silahkan anda membaca sambil “mencocokkan” dan “mengevaluasi” pola komunikasi dan persuasi anda, menilai efektifitas anda selama ini. Dalam bab ini anda akan menemukan alasan dibalik kegagalan dan keberhasilan yang pernah anda buat.

Terjebak Emosi Sendiri
Pernahkah anda mengalami, saat sedang bercakap-cakap ringan atau dalam negosiasi atau dalam persuasi anda terbawa percakapan sampai meluas kemana-mana dan akhirnya berujung pada saling serang secara individual. Emosi tiba-tiba meningkat drastis dan tidak terkontrol dan komunikasi menjadi pertengkaran, adu pendapat, atau ajang gengsi-gengsian.
Kalau pun tidak sampai separah itu, setidaknya anda mungkin pernah merasakan bagaimana dalam proses komunikasi (untuk tujuan apa pun) emosi anda terbawa, lalu anda melupakan tujuan, lupa apa yang harus dikatakan dan bagaimana mengatakanya, atau setidaknya anda malah jadi terdiam hening menahan emosi. Lawan bicara anda mengambil alih kendali atas kondisi emosional anda; membuat anda jadi bad mood, putus asa, kecewa atau marah.
Emosi sangat sensitif, sehingga dengan persinggungan sedikit saja, maka dia bisa meluap dan tidak terkontrol lagi. Saat itu bahkan jika anda menguasai teknik-teknik paling dahsyat sekali pun, maka anda tidak akan mencapai apa yang anda ingin capai dalam proses komunikasi tersebut. Anda terbawa dan hanyut dalam emosi anda, sibuk dengan perasaan anda sendiri.

Tersesat di Pikiran Anda Sendiri
Jika pun anda tidak terjebak secara emosional, masih ada jebakan lain yang harus anda waspadai dalam proses komunikasi, sebab bisa saja anda sewaktu-waktu jatuh ke sana jika anda tidak benar-benar memegang outcome yang telah anda tentukan dengan baik, dan hal ini dialami banyak orang. Kenyataanya, hal ini jugalah yang menjadi salah satu sebab anda terbawa dalam luapan atau letupan emosional.
Ada beberapa jenis jebakan yang biasa dialami saat dalam proses komunikasi, saat anda terjebak dalam pikiran anda sendiri. Pertama, anda terlalu sibuk berpikir, sehingga anda tidak berinteraksi lagi dengan lawan bicara anda, namun berinteraksi dengan diri anda sendiri. Anda sibuk memikirkan apa yang harus anda katakan, bagaimana anda harus mengatakanya, dan bahkan anda sibuk menganalisis apa yang sedang lawan bicara anda pikirkan. Anda sibuk menduga-duga (bukan menganalisis) jika anda mengatakan apa dengan cara yang bagaimana, maka respon apa yang akan dikeluarkan oleh lawan bicara anda. Anda terjebak dalam pikiran anda sendiri.
Anda akhirnya terlalu banyak berpikir, dan tidak lagi berinteraksi secara efektif, tidak lagi interaktif.
Jenis jebakan pikiran lainya misalkan anda malah sibuk memikirkan hal-hal lain yang tidak ada dalam konteks komunikasi anda saat itu. anda memikirkan masalah anda sendiri, anda menganalisis barang atau kejadian yang terpajang di sekitar tempat anda berinteraksi. Anda sibuk dengan pikiran anda, kehilangan minat dan pada saat itu tentu saja anda kehilangan efektifitas anda dalam berkomunikasi.

“Terlalu Banyak Anda”
Pola umum lainya, yang biasanya menjangkiti orang yang terlalu kurang perhatian, terlalu narsis dan memerlukan banyak perhatian adalah, terlalu banyak hal tentang anda. Sedikit saja ada pembahasan tentang sesuatu, maka anda mengaitkanya dengan diri anda, masa lalu anda, milik anda, pencapaian anda dan hal-hal lain berkaitan dengan anda.
Jika anda memiliki terlalu banyak anda dalam interaksi anda dengan orang lain, maka komunikasi itu jadi semacam curhat dadakan yang membosankan. Tentu saja akan membosankan, karena orang lain biasanya akan lebih tertarik mendengarkan tentang diri mereka dibanding tentang anda.
Namun, pola kesalahan semacam ini saya yakin hanya menjangkiti beberapa orang, terutama mereka yang kemampuan komunikasinya sangat rendah, dan anda pasti tidak termasuk di dalamnya. Namun, sayangnya, anda sering kali dalam komunikasi seiiring berjalanya interaksi yang dinamis, bisa saja muncul godaan untuk mengisi komunikasi dengan “terlalu banyak anda”. Tentu saja anda boleh membicarakan diri anda, apa lagi jika diminta, namun kalau “terlalu banyak anda” biasanya akan membuat komunikasi jadi membosankan.

Kurangnya Magical Touch
Pernahkah anda melakukan komunikasi selama hampir berjam-jam dengan seseorang, namun lawan bicara anda masih nampak dingin dan ssangat sedikit respon yang diberikanya sesuai dengan apa yang anda harapkan? Malah, cenderung ingin segera mengakhiri komunikasi membosankan tersebut.
Alasanya, selama anda berbicara anda terlalu banyak membicarakan hal-hal membosankan, hal-hal yang hanya ada di permukaan, hanya berbentuk informasi untuk otak saja, tidak sampai menyentuh hati. Sehingga lawan bicara anda tidak bergairah dengan pembicaraan anda, sama tidak tertariknya dengan anak sekolah yang mendengarkan penjabaran teoritis di siang hari.
Lalu apakah magical touch yang menjadikan komunikasi anda menyentuh hati dan tidak membosankan, sebaliknya penuh gairah dan dinamika interaktif? Sentuh emosinya! Jika pun anda memberikan informasi tentang produk atau jasa anda, tekankan keuntungan emosional yang bisa diraihnya. Misalkan pun anda sedang mendengarkan pembicaraan lawan bicara anda, maka sekedar memberikan reflection of feeling, mengkonfirmasi perasaanya saat itu akan cukup menggairahkanya.
Namun, jika terlalu banyak unsur emosional juga akan tidak baik, terutama jika nanti arahnya mulai “menggila” dan anda tidak bisa mengendalikanya.
Seseorang akan tersentuh dalam suatu interaksi jika emosinya, bagian-bagian dalam dirinya terwakilkan.

Tidak Melihat Sisi yang Tidak Diperlihatkan
Manusia adalah sistem yang dinamis. Manusia terdiri dari berbagai komponen, dan dalam melakukan inetraksi dengan orang lain, berbagai komponen kepribadianya ini ikut terlibat sehingga mengakibatkan adanya dinamika dalam komunikasi dan dinamika di dalam dunia internalnya.
Anda bisa melihat reaksinya, anda bisa mengamati cara berpakaianya, anda bisa melihat lingkunanya dan banyak komponen lain di luar dirinya, komponen kasat mata yang bisa anda perhatikan, yang dalam intensitas tertentu memang bisa mewakili kepribadian atau dunia internal orang tersebut.
Namun seseorang selalu memiliki lebih banyak hal dalam dirinya selain yang dapat diproyeksikanya ke dalam cara berpenampilan dan tananan ruangan atau susunan kata serta cara mengatakanya. Anda harus masuk lebih dalam, ke hal-hal instingtif dan hal-hal yang menjadi “hidden driving force” atau daya dorong tersembunyi dalam dirinya.
Anda harus melihat apa saja yang diinginkanya, apa yang dihargainya (values) keyakinan-keyakinan (beliefs) yang dimilikinya serta prioritas (criteria) kehidupanya. Kebutuhan dasar mana yang tidak mampu dia penuhi, ambisi-ambisi dan impian-impian terpendamnya serta berbagai hal penting dalam dirinya, yang jika kemudian hal-hal ini anda kaitkan dengan tujuan-tujuan persuasi anda, dampaknya akan sangat jauh lebih dahsyat dari yang anda kira.



Kehilangan Momentum
Selalu ada saat yang tepat untuk setiap hal. Manusia bereaksi dengan cara tertentu berdasarkan konteks percakapan dan inetraksinya, yang dalam konteks lain reaksi, sikap, pemikiran dan keputusanya bisa saja sangat berbeda. Selain itu, bahkan saat anda sedang dalam interaksi anda harus memperhatikan momentum kapan harus diam, kapan harus bicara, kapan harus memberi dan kapan harus meminta.
Bahkan jika anda telah melakukan rapport dengan baik, melakukan proses komunikasi yang sudah sesuai dengan strategi yang anda susun dan segenap rencana anda berjalan lancar, anda bisa saja gagal dalam closing jika momentum yang anda pergunakan kurang tepat, apa lagi sampai salah.
Momentum diamati berdasarkan dinamika state orang tersebut, dan tentu saja dinamika lingkungan dimana interaksi berlangsung. Ketepatan waktu adalah salah satu senjata ahli persuasi.
Banyak orang yang masih belum yakin dengan momentumnya dan menunggu bukan karena hasil pengamatan, namun karena masih ragu-ragu, karena masih sibuk dengan pikiran sendiri. Atau ada juga yang “main tembak” karena terlalu percaya diri. Ketepatan momentum didapat dari hasil analisa, bukan dari tebakan atau jebakan rasa percaya diri berlebih.

Terlalu Banyak atau Sedikit Kata ???
Ada orang yang dalam berinteraksi mengeluarkan begitu banyak kata, mengatakan begitu banyak hal dan menyampaikan begitu banyak informasi. Ada pula yang menjadi kebalikanya, sangat hening, hanya mendengar, terlalu sedikit kata, bahkan minim komentar.
Makah dari keduanya yang lebih baik?
Memang, hal yang “terlalu” jarang baik, namun bukan itu konsen anda. Hal yang harus anda perhatikan sebelum anda terlalu banyak atau terlalu sedikit bicara adalah, manakah yang direspon dengan baik oleh lawan bicara anda, dan yang direspon dengan lebih baik oleh lawan bicara anda maka itulah yang lebih baik. Bukan orang lain yang akan menentukan mana yang lebih baik aman yang buruk, namun respon lawan bicara anda.
Jangan pula terjebak oleh kalimat semacam “dia suka orang yang banyak bicara” atau “dia suka orang yang pendiam”, semua tergantung konteksnya, sebab ada saja saat seorang yang suka dengan orang yang banyak bicara menginginkan lawan bicara banyak diam. Penentu terbaik anda selalu adalah respon yang anda terima dari lawan bicara anda.

Kata-kata yang Tepat, Tapi Cara Mengatakanya yang Tidak
Anda memang harus memperhatikan dengan baik kata-kata yang anda pilih dan susunannya dalam sebuah kalimat, sebab efeknya bisa sangat jauh berbeda. Bahkan sebuah kata bisa memiliki efek yang sangat dahsyat, apa lagi sebuah kalimat atau sebuah paragraf. Namun ada juga hal yang anda perlu perhatikan dengan sama baiknya, yaitu bagaimana anda mengatakanya.
Cara anda mengatakan sebuah kalimat akan memberi jiwa dan kekuatan yang berlipat pada kata-kata yang anda pilih. Cara anda mengatakanya meliputi jeda yang anda tempatkan diantara kata atau kalimat, intonasi, tinggi rendahnya nada, serta tentu saja bahasa tubuh dan gestur yang mengantarkan kalimat-kalimat anda. Jika anda menyesuaikan pola kalimat yang anda pakai, menguatkanya dengan cara mengatakan yang tepat dan konteks yang sesuai, maka anda akan mendapatkan hasil yang anda harapkan.

Anda Tidak Bisa Masuk Ruangan yang Pintunya Belum Dibuka
Banyak yang memulai pembicaraanya terlalu dini, sebelum momennya tepat. Lalu kapan momen yang tepat untuk “memulai” itu? saat rapport sudah terbentuk, saat chemistry sudah terjalin. Rapport yang baik seperti membuka pintu sebuah rumah, membuka pintu pikiran. Anda tidak bisa memasuki sebuah rumah sebelum membuka pintunya, atau sebelum pemilik rumah membukakan pintunya untuk anda. Saat dimana pintu pikiran terbuka itu adalah saat dimana rapport dan chemistry sudah terjalin dengan baik.

Anda Tidak Harus Mengatakanya
Persuasi dan komunikasi tidak bergantung dengan kata-kata, walaupun kata-kata merupakan salah satu kekuatan dalam persuasi dan komunikasi. Alasanya, pikiran manusia tidak hanya mengolah informasi yang berasal dari kata-kata. Malah, kata-kata bisa menjadi sangat tidak efektif dalam mempengaruhi pikiran seseorang, terutama jika kata-kata tersebut tidak tersusun dalam pola yang menghipnotis.
Manusia berkomunikasi dengan simbol, dan memiliki kecenderungan untuk menyimbolkan sesuatu, entah dengan kata, gestur, gambar atau apa pun. Memanfaatkan cara kerja pikiran seperti itu maka kita bisa mempengaruhi pikiran orang lain baik dengan kata-kata yang tersusun dalam pola menghipnotis maupun dengan cara-cara lain untuk memasukan “data” ke pikiran bawah sadar tanpa harus mengatakanya.
Kata-kata menjadi lemah karena saat mendengar kata-kata tersebut pikiran akan langsung menganalisa, menilai dan menganalisisnya. Jika anda ingin kata-kata anda memiliki kekuatan maka kata tersebut harus disusun dalam pola yang tidak dapat dianalisa pikiran sadar dan langsung menembus bawah sadar. Selain itu, bagaimana kata tersebut diucapkan, gestur dan bahasa tubuh yang mengiringinya dan lainya pun harus diperhatikan secara detail.

Memanfaatkan Daya Dorong Luar Biasa
Kita tidak akan bisa menggerakan seseorang untuk mengikuti sebuah pemikiran, untuk memakai sebuah jasa atau memakai produk tertentu, jika kita tidak menggerakan “daya dorong tersembunyinya”. Kita hanya akan membuang-buang waktu dengan memberikan berbagai informasi dan pertimbangan, namun hasilnya nihil. Sebaliknya, bahkan tanpa penjelasan panjang lebar sekali pun, jika anda menyentuh daya dorong internalnya, yang akan menggerakanya dengan kuat, maka dia akan tergerakan.
Salah satu daya dorong dalam diri manusia, yang jarang disadarinya yaitu daya dorong instingtif, dorongan kebutuhan dasar dalam diri, baik kebutuhan-kebutuhan psikologis maupun kebutuhan biologis. Bahkan orang bersangkutan sering tidak kuasa membendung kebutuhanya sendiri, karena saking kuatnya. Nah, jika daya dorong ini dimanfaatkan dalam persuasi, maka bisa anda bayangkan sendiri bagaimana besar dorongan yang dihasilkan dalam persuasi anda.
Daya dorong instingtif, naluri-naluri dasar manusia juga menjadi begitu kuat karena doronganya yang sering tidak disadari, dan dengan mudah bisa menjadi tidak terkendali.

NB :
Tulisan ini merupakan salah satu cuplikan dari Buku "The Hitler Effect"
READMORE
 

Acara Covert Conversational Hypnosis Pertama di Bali


Hypnosis dan Hypnotherapy sudah bukan lagi hal yang baru bagi rakyat Indonesia, sebab banyaknya didakan training atau pelatihan terkait. Para trainer dan praktisi di bidang tersebut pun sudah tidak jarang lagi ditemui. Namun demikian, bidang keilmuan hypnosis masih sangat luas, sehingga masih sangat banyak aspek keilmuan hypnosis yang belum banyak diajarkan.


Salah satu bidang keilmuan hypnosis yang masih sangat diajarkan di Indonesia yaitu Conversational Covert Hypnosis, yaitu salah satu bidang keilmuan hypnosis yang secara spesifik diaplikasikan sebagai sebuah metode komunikasi dan persuasi. Conversational Covert Hypnosis biasanya banyak diaplikasikan dalam bidang marketing (selling), coaching, therapy dan bidang-bidang komunikasi yang lain.


Hypnosis, secara sederhana dapat diartikan sebagai metode komunikasi yang mem-bypass factor kritis (critical factor) pikiran sehingga ide, informasi dan berbagai topic pembicaraan lainya bisa secara langsung masuk ke pikiran bawah sadar (subconscious mind) yang merupakan bagian pikiran dengan kapasitas 88%, dibandingkan dengan pikiran sadar (conscious mind) yang hanya 12% saja.
Dalam setting pelatihan hypnosis biasa atau pelatihan hypnotherapy umumnya, materi yag diajarkan biasanya hanya berfokus pada tools dan metode-metode transformative, yang dilakukan dalam kondisi trance, sedangkan dalam covert conversational hypnosis, yang juga disebut dengan waking hypnosis (meng-hipnosis dalam kondisi terbangun), sebab yang dikedepankan dalam pelatihan covert conversational hypnosis adalah pola bahasa (hypnotic language), menjalin keakraban atau keintiman (rapport building) dan berbagai materi komunikasi antar personal atau pun komunikasi massal.

Berbagai materi komunikasi yang bersifat sangat advanced ini merupakan materi yang sangat penting aplikasinya dalam bidang bisnis, personal, professional maupun sosial. Berdasarkan latar belakang tesebut,  maka UNTUK PERTAMA KALINYA DI BALI akan diadakan workshop Covert Conversational Hypnosis dari Indonesia Conversational Hypnosis.

Komunikasi dan persuasi merupakan aspek yang sangat penting dalam kehidupan, sebab tidak ada manusia yang bisa tidak berkomunikasi satu dengan yang lain dalam kehidupanya. Dalam bidang apa pun, baik, personal,sosial, professional.dunia bisnis, marketing, penjualan dan sejenisnya sangat disemarakan oleh negosiasidan persuasi, dan Covert Conversational Hypnosis merupakan metode persuasi terselubung yang sangat powerful. Politik, pendidikan, media masa, kepemimpinan, dan berbagai bidang kehidupan lainya sangat bergantung pada kualitas komunikasi dan persuasi para praktisinya.

Komunikasi dan persuasi hypnosis terselubung (conversational covert hypnosis) merupakan salah satu metode persuasi yang masih belum banyak diajarkan di Indonesia, dank arena itu masih sangat tajam dan powerful, yang bisa diaplikasikan dalam setiap bidang kehidupan untuk meningkatkan kualitas kehidupan, kualitas hubungan, dan banyak hal luar biasa lainya.

MATERI PELATIHAN

Materi (outline) yang akan diberikan dalam pelatihan covert conversational hypnosis ini, adalah :

1.Rapport Building, yaitu cara-cara menjalin kedekatan dan keintiman dengan seseorang, baik melalui gerak gerik bahasa tubuh, active listening, pacing and leading dan lainya.

2.Conscious dan unconscious, mengungkapkan misteri pikiran sadar dan pikiran tidak sadar, bagaimana system pengelolaan informasinya, serta bagaimana mempengaruhinya.

3.Metaphor, yaitu bagaimana mempergunakan metafora dalam komunikasi dan persuasi untuk mempengaruhi pikiran orang lain secara elegent.

4.Emmbedded Commands atau perintah yang disisipkan merupakan salah satu kekuatan dalam persuasi hypnotic, sebab tanpa seseorang sadari, sebuah kalimat, percakapan, intonasi dan bahasa tubuh bisa membuat orang lain melakukan sesuatu yang kita perintahkan, dan akan dia anggap sebagai idea tau keinginanya sendiri.

5.Hypnotic Language, merupakan susunan pola bahasa, struktur kalimat dan percakapan yang sengaja disusun untuk mempengaruhi pikiran bawah sadar seseorang, tanpa mendatangkan ketidak nyamanan, kecurigaan namun sangat elegan, tersembunyi dan membuat percakapan menjadi menggairahkan.

6.Sleight of Mouth (Conversational Belief Changes), tidak seperti pelatihan covert hypnosis yang biasa diadakan ICH di luar Bali, pelatihan kali ini akan diperkaya juga dengan materi Sleight of Mouth yang merupakan bentuk pola komunikasi advanced gabungan dari NLP dan Hypnosis.

MANFAAT MENGIKUTI PELATIHAN INI


  1. Mengetahui bagaimana menjalin kedekatan instan dan intim dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja.
  2. Mengetahui bagaimana membujuk orang lain agar menyetujui ide anda, memberi anda dukungan, mengikuti keinginan anda serta membeli barang atau jasa anda
  3. Membangun karisma, wibawa dan otoritas dalam keluarga, sekolah atau lingkungan kerja
  4. Bagaimana mengkomunikasikan ide, pendapat atau saran anda secara elegan dan memastikanya diterima dengan baik.
  5. Membuat bawahan, siswa atau pendukung anda agar tunduk dan menurut pada anda
  6. Memotivasi dan menghancurkan keyakinan-keyakinan yang menghambat (limiting beliefs) orang lain hanya dengan kata-kata
  7. Merubah pola pikir serta mempengaruhi orang lain hanya melalui percakapan
  8. Menjadi pemimpin yang efektif dan efisien dan membuat bawahan anda berada di bawah kendali anda
  9. Menguasai pola bahasa hipnotis yang bisa anda pergunakan dalam mengajar, terapi, coaching, konseling, penjualan atau politik.
  10. Bagaimana menginduksi orang lain ke dalam trance-state hanya dengan percakapanSerta berbagai manfaat luar biasa lainya.



PENYELENGGARA & PEMBICARA

Acara Workshop Conversational Covert Hypnosis ini diselenggarakan untuk pertamakalinya di Bali oleh Alaka Foundation, dengan bekerja sama dengan Indonesia Conversational Hypnosis (ICH), dengan menghadirkan dua pembicara sekaligus, yaitu :

Idrus Perkasa Putra (Founder ICH, Master Trainer NLP, Certified Hypnosis Instructur) yang akan membawakan materi workshop Conversational Hypnosis Mastery.

Putu Yudiantara (Founder Alaka Foundation, Penulis, Mentor Online Course MindControlSchool.com, Hypnotherapist) yang akan membawakan materi Conversational Belief Change atau Sleight of Mouth.

Selain menjadi event Conversational Hypnosis Workshop pertama di Bali, acara ini juga dibawakan oleh dua orang trainer sekaligus, sehingga manfaat yang didapatkan jauh lebih optimal dengan berbagai fasilitas lainya.


INVESTASI PELATIHAN & FASILITAS

Sama sekali tidak diperlukan uang puluhan juta untuk menguasai ilmu ini seperti jika anda belajar ke luar negeri atau membeli berbagai produk sejenis di luar negeri.
Anda bahkan tidak perlu mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk memperoleh MANFAAT BESAR dari pelatihan ini, karena and juga akan difasilitasi dengan berbagai program pembayaran khusus ini :

Investasi Normal                     : IDR 2.000.000/ Orang
Early Birds                               : IDR 1.800.000/ Orang
Group Minimal 3 Orang         : IDR 1.500.000/ 3 Orang
Siswa, Mahasiswa, PNS          : IDR 1.600.000/ Orang

Sedangkan Fasilitas yang didapatkan para peserta pelatihan meliputi,

  • Sertifikat dari Alaka Foundation
  • Sertifikat dari Indonesia Conversational Hypnosis (ICH)
  • Modul Pelatihan
  • CD Rekaman Pelatihan (Optional)


SIAPA YANG HARUS MENGIKUTI PELATIHAN INI ???

Peserta Workshop Conversational Covert Hypnosis ini teramat sangat luas, sebab selain sebagai sebuah teknik persuasi terselubung, Conversatioal Covert Hypnosis juga merupakan metode komunikasi, dan tidak ada manusia yang bisa tidak berkomunikasi. Beberapa target atau sasaran peserta dalam workshop ini, yaitu,

  • Kalangan Bisnis
  • Sales agent
  • Guru/ Pendidik
  • Pemimpin Perusahaan, manager, HRD, dll
  • Politisi, Institusi Pemerintah, dll
  • Therapist, coach, konselor, psikolog
  • Kalangan professional
  • Siswa/ Mahasiswa
  • Dan setiap orang yang tidak bisa lepas dari komunikasi 


WAKTU DAN  TEMPAT

Waktu                         : Minggu, 28 Oktober 2012 Pk.  09.00-19.00 WITA
Tempat                        : Restaurant Budiani, Jln Bedugul 31 Denpasar


Kesuksesan manusia merupakan akumulasi dari berbagai keahlian, kecerdasan dan usaha keras, dan dari ketiga hal tersebut, komunikasi merupakan keahlian yang harus dilatih dengan cerdas sebagai bagian atau elemen penting (bahkan teramat sangat penting) yang menentukan kesuksesan seorang individu.

Workshop ini diadakan untuk memfasilitasi masyarakat Bali untuk dapat menguasai keahlian komunikasi dan persuasi yang bersifat advance untuk dapat dipergunakan seluas-luasnya dalam berbagai bidang kehidupan dan berbagai tujuan, untuk meningkatkan kualitas kehidupan dalam berbagai aspek dengan seoptimal mungkin.
Keikut sertaan berbagai pihak, baik untuk mendukung membantu terselenggaranya acara ini dengan sukses dengan berbagai bentuk dukungan atau ikut sebagai peserta pelatihan merupakan hal yang sangat diharapkan.





READMORE