Salah satu metode masuknya sebuah ide atau kepercayaan
sampai mengakar kuat dalam pikiran bawah sadar seseorang adalah ide atau
kepercayaan yang disampaikan oleh figur yang dipadang memiliki otoritas.
Saat anda mendengar seorang pemulung kotor mengungkapkan
ide-ide berkaitan dengan tata negara, maka tidak ada yang akan menganggapnya
lebih dari sekedar ocehan burung. Namun saat ide-ide yang sama dikemukakan oleh
seorang profesor tata negara atau tokoh yang dikagumi masyarakat, maka segera
donasi dikumpulkan dan organisasi baru dibangun.
Saat pikiran menempatkan seorang sebagai figur otoritas,
maka anda akan sangat sedikit mempergunakan logika dan rasio anda dalam
mengolah informasi, ide dan berbagai kepercayaan yang disampaikan figur idola
anda, bahkan cenderung memiliki kepercayaan buta pada apa pun yang
disampaikanya.
Apakah tepatnya yang dimaksud figur otoritas?
Figur otoritas yang dimaksud tidak selalu seorang tokoh masyarakat
atau pemimpin besar. Bahkan seorang tokoh besar pun tidak akan menjadi otoritas
yang berperan dalam membangun pola pikir anda jika figur bersangkutan bukanlah
figur yang secara personal anda hormati, segani dan kagumi secara emosional.
Cinta itu membuat yang tidak sempurna menjadi sempurna,
demikian istilah yang sering kita dengar, dan demikianlah adanya. Saat anda
mencintai seseorang, maka apa pun yang dilakukanya akan tampak baik, tampak
menyenangkan, terasa membahagiakan bagi anda. Cinta itu membutakan, istilah
yang lebih tepatnya.
Hal yang sama juga terjadi saat anda menjadikan seseorang sebagai
figur otoritas yang memiliki pengaruh terhadap kondisi emosional anda. Saat seorang
yang anda kagumi dengan sepenuh hati menasehati anda, memberikan anda ide-ide
atau pemikiran baru, maka apa pun yang dikatakanya akan sangat sedikit anda
kritisi, sehingga apa pun yang dikatakanya akan anda jadikan sebagai kebenaran
dan anda ikuti dengan kepastian.
Pertama, mungkin anda perlu merenungkan kembali, siapa
sajakah figur atau tokoh yang sangat anda kagumi, yang ide-ide dan pemikiranya
sangat berpengaruh terhadap pola pikir anda? Mungkin seorang tokoh spiritual,
seorang negarawan, budayawan, seorang coach atau therapist, atau malah seorang
sahabat?
Semakin besar kekaguman anda pada tokoh-tokoh tersebut, maka
akan semakin sedikit anda mengkritisi pemikiranya karena menurut anda “semua
yang dikatakanya pasti benar”. Dalam setting dunia spiritual dan religius,
malah anda akan bangga menjadi seorang “true believer” yang tidak lagi
memertanyakan apa pun yang figur spiritual anda katakan, namun anda ikuti
sepenuhnya dengan sepenuh ke-iman-an.
Ada istilah yang populer terhadap hal ini, yang jika anda cukup berani bisa anda coba,
"Pertanyakan semua hal yang figur otiritas anda katakan, nasehatkan atau lakukan?"
Celakanya, dengan memanfaatkan Teknik-teknik Bahasa Tubuh
sederhana, pola bahasa yang sesuai dan metode komunikasi yang tepat, maka
ke-figur-an atau toritas bisa dibangun dalam persepsi seseorang, dengan
memanfaatkan teknik-teknik psikologi sederhana saja anda bisa menjadi seorang
yang dianggap memiliki otoritas dan mendapatkan kepercayaan mutlak oleh orang
lain.
Hitler, Martin Luther King Jr., Barack Obama dan para
pemimpin besar lain tidak akan menjadi pemimpin besar jika mereka tidak
berhasil menumbuhkan ke-otoritas-an pada para pengikutnya, dan malah,
menumbuhkan authority pada khalayak
ramai atau komunitas jauh lebih mudah dibanding menumbuhkan otoritas pada
seorang individu.
Dalam Hitler Effect dibahas secara terperinci bagaimana otoritas publik atau personal bisa ditumbuhkan dengan tahapan yang mudah dan teruji. Hanya saja kemudian, bagaimana otoritas ini dipergunakan, akan memberi pilihan seperti yang para pemimpin besar yang telah disinggung di atas telah sampaikan, mau dijadikan seperti Hitler, atau malah mau semulia Mahatma Gandhi???
Selalu, anda yang menentukan pilihanya ...
