Authority and Blindness of True Believers, Catatan Kecil Hitler Effect


Salah satu metode masuknya sebuah ide atau kepercayaan sampai mengakar kuat dalam pikiran bawah sadar seseorang adalah ide atau kepercayaan yang disampaikan oleh figur yang dipadang memiliki otoritas.
Saat anda mendengar seorang pemulung kotor mengungkapkan ide-ide berkaitan dengan tata negara, maka tidak ada yang akan menganggapnya lebih dari sekedar ocehan burung. Namun saat ide-ide yang sama dikemukakan oleh seorang profesor tata negara atau tokoh yang dikagumi masyarakat, maka segera donasi dikumpulkan dan organisasi baru dibangun.



Saat pikiran menempatkan seorang sebagai figur otoritas, maka anda akan sangat sedikit mempergunakan logika dan rasio anda dalam mengolah informasi, ide dan berbagai kepercayaan yang disampaikan figur idola anda, bahkan cenderung memiliki kepercayaan buta pada apa pun yang disampaikanya.
Apakah tepatnya yang dimaksud figur otoritas?

Figur otoritas yang dimaksud tidak selalu seorang tokoh masyarakat atau pemimpin besar. Bahkan seorang tokoh besar pun tidak akan menjadi otoritas yang berperan dalam membangun pola pikir anda jika figur bersangkutan bukanlah figur yang secara personal anda hormati, segani dan kagumi secara emosional.
Cinta itu membuat yang tidak sempurna menjadi sempurna, demikian istilah yang sering kita dengar, dan demikianlah adanya. Saat anda mencintai seseorang, maka apa pun yang dilakukanya akan tampak baik, tampak menyenangkan, terasa membahagiakan bagi anda. Cinta itu membutakan, istilah yang lebih tepatnya.
Hal yang sama juga terjadi saat anda menjadikan seseorang sebagai figur otoritas yang memiliki pengaruh terhadap kondisi emosional anda. Saat seorang yang anda kagumi dengan sepenuh hati menasehati anda, memberikan anda ide-ide atau pemikiran baru, maka apa pun yang dikatakanya akan sangat sedikit anda kritisi, sehingga apa pun yang dikatakanya akan anda jadikan sebagai kebenaran dan anda ikuti dengan kepastian.

Pertama, mungkin anda perlu merenungkan kembali, siapa sajakah figur atau tokoh yang sangat anda kagumi, yang ide-ide dan pemikiranya sangat berpengaruh terhadap pola pikir anda? Mungkin seorang tokoh spiritual, seorang negarawan, budayawan, seorang coach atau therapist, atau malah seorang sahabat?
Semakin besar kekaguman anda pada tokoh-tokoh tersebut, maka akan semakin sedikit anda mengkritisi pemikiranya karena menurut anda “semua yang dikatakanya pasti benar”. Dalam setting dunia spiritual dan religius, malah anda akan bangga menjadi seorang “true believer” yang tidak lagi memertanyakan apa pun yang figur spiritual anda katakan, namun anda ikuti sepenuhnya dengan sepenuh ke-iman-an.

Ada istilah yang populer terhadap hal ini, yang jika anda cukup berani bisa anda coba,
"Pertanyakan semua hal yang figur otiritas anda katakan, nasehatkan atau lakukan?"

Celakanya, dengan memanfaatkan Teknik-teknik Bahasa Tubuh sederhana, pola bahasa yang sesuai dan metode komunikasi yang tepat, maka ke-figur-an atau toritas bisa dibangun dalam persepsi seseorang, dengan memanfaatkan teknik-teknik psikologi sederhana saja anda bisa menjadi seorang yang dianggap memiliki otoritas dan mendapatkan kepercayaan mutlak oleh orang lain.

Hitler, Martin Luther King Jr., Barack Obama dan para pemimpin besar lain tidak akan menjadi pemimpin besar jika mereka tidak berhasil menumbuhkan ke-otoritas-an pada para pengikutnya, dan malah, menumbuhkan authority pada khalayak ramai atau komunitas jauh lebih mudah dibanding menumbuhkan otoritas pada seorang individu.

Dalam Hitler Effect dibahas secara terperinci bagaimana otoritas publik atau personal bisa ditumbuhkan dengan tahapan yang mudah dan teruji. Hanya saja kemudian, bagaimana otoritas ini dipergunakan, akan memberi pilihan seperti yang para pemimpin besar yang telah disinggung di atas telah sampaikan, mau dijadikan seperti Hitler, atau malah mau semulia Mahatma Gandhi???

Selalu, anda yang menentukan pilihanya ...

Penulis : Putu Yudiantara ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Authority and Blindness of True Believers, Catatan Kecil Hitler Effect ini dipublish oleh Putu Yudiantara pada hari Selasa, 02 Oktober 2012. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Authority and Blindness of True Believers, Catatan Kecil Hitler Effect